Berita

Surat Romantis Sultan Syahrir

Siapa orang yang paling romantis di dunia?, Dilan?, alm. B.J Habibie?, Atau SBY?. Kali ini kalian harus masukan satu lagi orang romantis, yaitu Sutan Sjahrir.

Melalui suratnya kepada sang istri Maria Duchateau yang berada di Belanda, dan kala itu Sutan Sjahrir berada dalam masa pengasingan.

Langsung saja saya terjemahkan, karena teks dan bahasa kurang begitu bisa di pahami.

Tanah Merah, 30 Mei 1935.
Mieske.
Pelan-pelan aku membaca suratmu lagi beberapa kali. Didalamnya ada begitu banyak yang aku sukai khususnya dalam fragmen-fragmen yang pesimistis. Aku memahami semua dengan begitu baik, aku tahu kenapa dan bagaimana kau menuliskannya.

Aku tahu semua, dan membangkitkan banyak kenangan-kenangan dalam diriku, baik yang pahit maupun yang manis.

Itu membuatku melamun, dan berpikir semua begitu menyenangkan bagiku, aku merasa jauh lebih baik, lebih murni, merdeka, terangkai dari manusia yang sepele.

Di dalam diri kita begitu banyak hal sepele, begitu banyak kebodohan dan piciknya pandangan.

Aku terkejut melihat itu ada didalam diriku sendiri, sepertinya aku kira, ketenangan dan kedamaian telah di rebut oleh penjara selama-lamanya.

Dimana perasaan lega yang nyaman, pasrah menerima, kekuatan karena keteguhan, kesetiaan, semua sirna saat pintu-pintu penjara dibelakangku ditutup.
Kamu sudah bisa mengetahui itu semua dari semua surat-surat yang dikirimkan melalui kapal, bahwa ketenanganku hilang.

Sampai sekarang saya belum menemukan lagi ditengah orang-orang, keramaian, keresahan, kedangkalan dan didalam kesendirian, kesunyian dan renungan.
Sekarang diantara orang-orang yang berbicara, bertindak, membuat kesalahan, ragu-ragu, ada ketidakpuasan terhadap diri sendiri.

Di bulan-bulan yang lalu, aku memaksakan diri untuk konsentrasi berpikir, untuk memikirkan secara terus menerus, walaupun saat ini keadaan belum cocok untuk aku memulai belajar lagi.
Aku mencoba bersikeras melepaskan diri dari semua kekhawatiran atas soal sehari-hari yang sepele.

Mengkhawatirkan keuangan dan mengkhawatirkan makanan, melepaskan diri dari lingkungan yang menegangkan. Tapi aku tidak berhasil dengan baik, studiku tidak berkembang pesat, terlalu sering merasa lesu, sangat terganggu cuaca & terlalu sering membiarkan diri dipengaruhi lingkungan.

Dimana pengusaan diri, ketentraman jiwa yang selalu ada selama ini hilang, Mieske.
Namun hari ini, malam ini, aku merasa begitu tajam. Suratmu dengan sendirinya membuatku jadi berpikir, melamun, menarik aku dari keadaan sekitar, membersihkan aku dari hal sepele yang ada.

Malam ini aku merasa tenang lagi sayang. Seperti keadaan aku sekarang, sebagaimana juga perasaanku sekarang, aku tak bisa lagi menampik apa yang kamu sebut sebagai “inti yang paling dalam kita miliki” itu dia Mieske, yang bisa berbicara dari suratmu, membersihkan aku.

Apa yang aku tak temukan dalam studiku, apa yang tak aku temukan dalam filsafat, aku temukan pada dirimu, pada surat-suratmu.

Kamu mengertikan Mieske? Karena itu, yang kamu tulis tidak benar Mieske, bahwa kau bilang “ada kegagalan diseluruh lini hidup kita”.
Ini milik kita, ini akan mengarahkan dan menentukan hidup kita, dan itu bukan salah, tak bisa jadi salah selamanya

Karena ini adalah hal yang memberi makna kepada diri kita dalam hidup ini.
Biarpun kekecewaanmu, penderitaanmu, ucapan pahitmu, saya membaca itu semua dari suratmu, karena itu saya tidak perlu membahas semua ucapan pahitmu secara tersendiri.

Istriku, pada akhirnya kita tau bahwa kita berada dalam titik saling mengerti sepenuhnya dan kita bisa saling memahaminya. Aku mengalami itu setiap hari.
Kadang kadang aku merasa semua buangan, sampai sahabat paling dekatpun tidak bisa menyelami perasaanku.

Disini aku merasa lebih banyak kesepian dan sendiri, melebihi kesendirian di dalam sel penjara itu sendiri.
Didalam pikiranku, aku selalu membutuhkanmu untuk menguji pikiran dan tindakanku, untuk berunding, untuk berbagi perasaan.

Aku membutuhkan surat-suratmu untuk bertahan dan mengangkat diri ini saat hampir tenggelam dalam soal-soal yang sepele, kau tahu semua itu toh Mieske?
Dan apa selain esensi yang mengkristal dari semua yang kita miliki, dari semua usaha dan berpeluangnya kita dari suka dan duka.

Apa yang menjadi dorangan semangat hidup dalam buangan ini, juga tidak bisa hanya berarti penderitaan dan kemalangan dalam hidup.
Karena itu suratmu begitu sangat berarti bagiku, aku harap kamu mampu menulisnya secara teratur kepadaku.

Supaya aku bisa menerima sesuatu tiap kapal yang datang berlabuh, dan itu artinya setiap sekali dalam tiga minggu sekarang.
Kehidupanku diantara orang buangan, keadaanya jauh lebih berat, daripada dalam sel isolasi penjara.

Disini sekarang aku jauh lebih membutuhkan surat-suratmu jauh lebih banyak, daripada didalam penjara.
Sekarang selalu ada manusia disekitar saya yang bicara, terus berbicara, tetapi tetap saya merasa kesepian.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close